Disalah satu sudut kota jogjakarta, ada cerita tentang aku
dan kamu. Sepasang muda-mudi yang sedang saling merajut, menggenggam tangan dan
menganggumi satu sama lain. Bergandengan menyusuri malioboro, tersenyum,
bercanda dan sesekali saling menatap tanpa berbicara apa-apa. Menikmati
keheningan antara aku dan kamu ditengah keramaian kota jogja.
Disana ada sebuah kejujuran, kepasrahan dan romantisme yang
tidak ingin terlepas. Mencoba peruntungan berjalan ditengah beringin kembar
dengan penuh harap. Harapan kita saat itu hanya satu, tidak ingin kehangatan
ini terhempas.
Dikota itu, ditempat itu, ada setangkai bunga yang kamu
berikan untukku saat aku membuka mata. Ya, untuk aku yang saat itu bukan
siapa-siapa kamu. Meski aku tidak berhasil berjalan diantara beringin itu, tapi
tidak apa, masih ada kamu dan bunga itu.
Duduk berdua diatas bangunan keraton putih, menatap pawai, hanya duduk menikmati waktu, berdua saja. Menikmati
genggam tanganmu yang terasa begitu hangat. Rasa hangat yang terlalu pekat
untuk tak kita rasa, namun juga terlalu fana untuk berharap.
Dibahumu aku bersandar karena kelelahan. Kamu hanya menatap
dan tidak mengeluarkan sepatah kata, hanya tersenyum dan mengusap kepalaku begitu
lembut. Aku sering meragu, namun tatapan itu seakan berbicara dan meyakinkan,
kita akan baik baik saja dan melewati ini semua bersama.
Di Jogjakarta ada cinta yang terus dipupuk tumbuh.
Dan rasa itu masih tetap sama hingga kemarin kita kembali kesana.
Jogjakarta, tempat aku dan kamu mengukir sebuah cerita ditengah keramaian kota.
Jogjakarta.. kita kembali lagi membawa rasa itu.
Dan rasa itu masih tetap sama hingga kemarin kita kembali kesana.
Jogjakarta, tempat aku dan kamu mengukir sebuah cerita ditengah keramaian kota.
Jogjakarta.. kita kembali lagi membawa rasa itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar