05/11/13

Sebuah cerita tentang cinta di kereta


Hari ini aku harus kembali pulang ke kota rantauanku. Dengan berbekal tiket kereta ditangan, aku pun naik kereta dari stasiun gambir. Tempat dudukku masih kosong, aku kira aku duduk sendirian sampai akhirnya ada seorang pria (yang awalnya kukira) berumur sekitar 35tahun datang.

Dengan senyum ramah dia menaruh tasnya dan duduk disebelahku, “misi” katanya. Setelah itu kami tidak banyak bicara, kami lebih memilih mendengarkan lagu dari earphone masing-masing. Aku sempat tertidur sebentar, aku kebingungan kereta yang kunaiki ini sudah sampai mana, dan akhirnya aku pun bertanya kepada orang disampingku..

“Cirebon udah lewat belom, mas?”
“udah baru aja, dek. Mau kemana?”
“ke purwokerto mas”
“oh orang sana?”
“ngga, kuliah. Saya sih tinggalnya dibekasi”
“oh udah kuliah, jurusan apa?”
“Biologi mas, semester 7”
“Oh udah semester 7, saya kira masih SMA”

Lalu beliau pun bertanya seputar jurusan dan dunia perkuliahanku, dan beliau juga bercerita tentang dunia kerja serta beberapa pengalamannya. Beliau seorang wirausaha yang bisa dibilang cukup sukses dengan pendapatan 40juta/bulan. Jika dilihat dari penampilan, gaya dan tutur bahasanya aku percaya dengan apa yang dikatakan beliau. Sembari meminum air putih dan sesekali mengetik sesuatu digadgetnya, beliau mulai bercerita hal lain. Cerita cinta beliau semasa kuliah.

“kamu punya pacar?” aku hanya mengangguk.
“seangkatan?” lagi-lagi aku mengangguk untuk menjawab pertanyaan yang beliau ajukan.
“saya juga dulu punya pacar waktu kuliah, seangkatan. Kalo inget jaman itu, saya jadi pengen ngulang lagi. Dunia luar itu berat mbak, keras. Saya pacaran 16tahun sama dia, dari SMP sampe kerja” aku cukup tertegun, waktu yang cukup lama untuk menjalin sebuah komitmen yang hanya ‘pacaran’. Matanya sedikit menerawang, mungkin sedang mengingat-ngingat.

“hmm.. tapi sekarang dia ga jadi istri saya.” Lagi-lagi aku tertegun dengan apa yang dikatakan beliau. Buat apa membina hubungan selama itu jika akhirnya berpisah?
Menurut cerita beliau, pacarnya ini lulus dua tahun lebih dulu. Lalu pacarnya kerja dibank, sedangkan beliau masih kuliah. Saat itu mulai timbul kerikil-kerikil, termasuk saat pria yang lebih mapan mendekati pacarnya.
“pacar saya bilang sama saya, kamu kerja keras untuk masa depan kamu. Kalo nanti kita jodoh, kita bisa nikmatinnya sama-sama, tapi kalo ngga ya setidaknya kamu sudah punya sesuatu untuk kamu nikmatin sendiri kan” ucap beliau menirukan perkataan pacarnya.

Dia memberitahu padaku, biasanya kalau orang pacaran seumuran, saat mulai memikirkan ke jenjang yang lebih serius akan bermasalah; saat sang pria belum mapan, tapi perempuan sudah dituntut untuk menikah. Tetapi masalah itu berhasil beliau lewati, karena mereka memiliki konsep akan masa depan yang sejalan.
“Loh tapi kok akhirnya putus?” aku cukup penasaran dengan cerita beliau. Dengan sedikit tertawa beliau kembali malanjutkan ceritanya..

“Karena pacar saya waktu itu sudah kerja duluan, saya juga jadi terpacu untuk mengejar karir. Saya kerja di jakarta, dia di jogja. Alhamdulillah setelah lulus kuliah kerjaan mulus aja sampai saya keasikan mengejar karir dan agak menyingkirkan dia. Saya lupa kalo yang namanya perempuan biar bagaimanapun juga butuh romantisme.” Dia menahan ceritanya sebentar dan menengguk air putih yang sedari tadi digenggamnya. Entah kenapa akupun sudah menebak jika pacarnya berpaling ke pria lain. Dan ternyata tebakan ku tepat.

“Dan saat itu dia mulai menerima perhatian dari orang lain. Awalnya saya fine, tapi lama kelamaan saya merasa posisi saya mulai tergantikan” ada sedikit kesenduan diwajahnya saat menceritakan hal ini.
“yasudah akhirnya kita memutuskan berpisah. Saya akui saya sayang dia, dia pun begitu. Saat itupun kami pisah dengan damai, saya mendoakan yang terbaik untuk dia dan pria itu. Kita sudah sama-sama dewasa dan saya sadar, itu bukan sepenuhnya salah dia. Umur kami waktu itu 31tahun, dan akhirnya dia menikah duluan” Lagi-lagi beliau tertawa, entah apa yang beliau tertawakan, apakah menertawakan masa lalu beliau? atau karena teringat akan mantan kekasihnya? Entahlah..

“lalu saya pergi keluar negeri, saya bergaul dengan banyak orang tapi saya belum bisa menemukan pengganti dia. Sampai akhirnya saya pulang ke indonesia dan seorang teman mengenalkan saya dengan istri saya sekarang. Saya menikah umur 38tahun, baru dua tahun menikah, sekarang umur saya 40” saya langsung teringat papa. Papapun sama seperti beliau, menikah diusia yang sudah tidak lagi muda. Saya pun menceritakan itu kepada beliau, dan beliau menimbang-nimbang, “anak saya sekarang masih bayi, berarti kalo anak saya seumur kamu, saya udah umur 60 ya” kemudian beliau tertawa lagi.

Tidak lama kemudian kereta yang kutumpangi sampai kestasiun tujuanku, purwokerto. Saat berjalan turun dari kereta aku berpikir, “Cinta dan jodoh itu hal yang berbeda, kita bisa merasakan cinta kita pada siapa, tapi jodoh merupakan sebuah misteri”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar