15/03/17

Pointing out people's sins

Well, setelah kemarin gue ngepost tentang orang orang yang nyinyir ke sesama muslim (which is ulama) dan agamanya sendiri, ada salah seorang temen gue yang ternyata baca dan cukup kaget tentang opini gue yang menurut dia 'islam banget'. Lalu gue coba jelasin, point gue adalah untuk orang orang yang tukang nyinyir bukan untuk yang punya pandangan bersebrangan, misalnya menurut dia gausah lah campurin agama sama politik, It's okay, just go with it. Terus dia coba menyampaikan pandangan dia, kalo gue tuh gak fair cuma nilai orang yang let's say.. sekuler. Maksudnya kan banyak juga tuh orang yang terlalu beragama lalu pada akhirnya jadi merasa berhak untuk menilai orang lain itu pendosa. Nah padahal ini juga gak bener.




Gue ini sebenernya berada di lingkungan yang cukup islami. Ada beberapa orang dilingkungan gue yang cewe pakai gamis dan kerudung panjang, yang cowo pakai celana 'cingkrang' dan berjenggot. Ada beberapa yang emang pembawaanya adem tapiii ada juga beberapa yang... ya itu tadi, merasa paling beragama lalu merasa orang lain itu pendosa dan pada akhirnya dengan mudahnya keluar kata-kata kafir padahal ke sesama muslim. Suatu ketika gue pernah nih, ngucapin selamat ulang tahun ke mereka, lalu apa balesan yang gue terima? "Didalam islam itu gak ada ulang tahun, ulang tahun itu ajaran orang kafir, rin" dan gue kaya yang... seriously? Padahal maksud gue baik tapi dibales dengan 'sekeras' itu. Apa gue jadi gak mau ngucapin selamat ulang tahun? Gak, yang terjadi adalah gue malah sebel sama orang itu. Tapi apa yang dia lakukan cukup bisa dimengerti, karena gue dan dia masih satu lingkungan, mungkin dia merasa perlu untuk mengingatkan gue. Mungkin maksudnya baik tapi caranya aja yang terlalu ekstrem.

Pernah juga gue mengalami kejadian yang lebih ekstrem. Jadi waktu itu gue pulang nemenin nyokap belanja, gue dan nyokap naik angkot yang cukup padet. banget. Tangan kanan gue lagi pegang belanjaan, dan gak memungkinkan gue untuk bergerak. Nah gue haus, gue minta nyokap untuk bukain botol minum dan gue minum pakai tangan kiri. Dan ada ibu ibu didepan gue yang tiba tiba bilang, "Anak manis kalo minum harus pakai tangan manis."lagi lagi mungkin maksud dia baik. Tapi yang gak gue habis pikir adalah dia gak kenal gue dan dengan seenaknya negur gue di tmpat umum. Apa yang gue rasain saat itu? Merasa risih dan dipermalukan. Akhirnya gue gak menerima teguran ibu itu dengan welcome, malah gue jawab "Ibu gak liat tangan kanan saya lagi ribet?" Karena itu tadi gue merasa dipermalukan.

Nah menurut gue ini yang salah dari beberapa orang. Mereka hanya mengingat perintah bahwa sesama muslim diwajibkan untuk saling mengingatkan dalam kebenaran tapi yang mereka lupa adalah sebenarnya ada adab atau tata cara dalam saling mengingatkan, iya kan? Mereka lupa bahwa dalam mengingatkan sesama muslim sebaiknya dengan cara yang gak nyakitin hati dan bahkan kalau ke individu langsung sebaiknya secara rahasia. Maksudnya rahasia disini itu apa? ya itu tadi jangan tegur didepan umum karena bisa mempermalukan. Karena yang gue rasain itu ya malu, jadinya malah risih dan annoyed.

Bahkan kalo kita liat di sosial media itu lebih parah. Sebenernya gue sebel sama orang-orang yang ekstrimis. Bener gak sih disebutnya ekstrimis? Haha. Maksud gue ya yang ekstrim kalo udah nyinyir sama sesuatu, jadi mereka seakan menutup mata untuk saling memahami satu sama lain. Jadi ya gitu, nyinyir aja terus dan saling merasa paling bener. Coba aja yang merasa muslim banget nih mau untuk mengingatkan dengan cara yang baik dan yang sekuler (sebenernya gue ragu sih untuk nyebut yang model gini nih sekuler, apa dong yang lebih tepat yah?) mau untuk lebih memahami, mungkin bakalan damai damai aja kali yah.



Walaupun gue udah pernah dibilangin sama orang terdekat gue, "Kamu terlalu naif. Gak semua orang bisa seterbuka itu, rin" heeemmm...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar